Hulaaaa… 2 minggu ini alhamdulillah banget aku sibuk kerja, kemaren nonton ftv ku gak di trans tv? aku main ftv horor bareng Nicky tirta dan Dwi andhika.. seru deh syuting bareng mereka.. syuting sampe tengah malem gitu gak berasa banget capeknya, karena kerja dengan orang2 yang sangat menyenangkan… Syuting dari hari senin tgl 16 feb sampe hari sabtu tgl 21.. hari sabtu syuting selsai jam 7 pagi, krn syutingnya di hari terahir itu di mulai di hari jumat.. kerjaan yang aku lakukan itu adalah kerjaan yang gak mengenal waktu banget.. kita sehari kerja bisa lebih dari 12 jam.. seperti hari terahir syuting, tapi kalo aku sih, jujur, memang capek, tapi aku fun banget ngerjainnya.. dan seperti di atas tadi, aku syutng dan kerja bareng orang orang yang sangat menyenangkan… nah hari sabtu itu juga, jam 5 sore aku berangat ke Kendari, Sulawesi Tenggara.. aku dapet undangan nyanyi di salah satu desa di kendari.. oke, kali ini aku mau ceritain perjalanan yaaaang sangat dasyat perjuangannya ya.. Sesampainya di kendari, sudah cukup malam, sekitar jam 11 malam, kalo di jakarta ja 10 malam.. aku langsung ke hotel, karena kata panitia aku harus standby jam 7 pagi hari minggu besok, karena acaranya jam 10 pagi.. jadi aku langsing ke hotel, mencoba istirahat dengan nyenyak agar di hari minggunya aku fit.. jam 7 pagi pas, aku dan managerku turu dari hotel, kami pikir, kami akan langsug menuju ke lokasi, ternyata kami harus makan pagi dulu di hotel, memang, kalo kerjaan banyak kaya gini, perut berasanya kosong terus, maklum harus mengumpulkan banyak energi biar gak gampang sakit.. saat makan pagi, panitia bercerita, bahwa lokasi tempat aku mngisi acara ternyata bukan di daerah kendari tapi di kepulauan muna.. kepulauan kecil yang masih termasuk di dalam provinsi sulteng, muna dipimpin oleh bupati… mayoritas masyarakat muna hidup di bawh garis kemiskinan..
perjalanan dimulai dari hotel menuju pelabuhan kecil yang harus menghabiskan waktu lebih dari 2 jam, melewati bukit bukit, jalannya kecil, sempit, pusing karena harus berlika liku.. lalu kami harus melewati hutan hutan belantara.. hutan itu nampak seperti mati,tidak ada kehidupan, kosong.. hanya beisikan pohon pohon liar yang tak tersusun rapi, sesukanya tumbuh tak terurus namun tetap bertahan.. pohon pohon itu memandangi kami yang melintas,ada yg tertunduk, ada yg tegak, ada yg tak perduli kala kami melintas.. yah.. mereka hanya pohon pohon saja,
kuberfikir dalam hati, kenapa ada jalan yg bisa dipintasi di hutan ini, kenapa ada yg mau ya lewat jalan ini? apakah ada yg hidup di tengah hutan mati ini? apakah ada yang mau bertahan disini..?
kuberdiam saja memandangi hutan belantar itu.. lamunanku terganggu saat aku melihat ada rumah panggung yang terbuat hanya dari kayu yang disusun menjadi dindingnya, berwarna abu abu kotor, usang, layu tak kokoh lagi menompang kayu kayu yang lain..
kenapa ada rumah disni pikirku? pasti sudah tak berhuni, pasti ini hanya rumah kosong yang dulu pernah ditinggali.. siapa pikirku yang mau tinggal disini? tetapi sesosok ibu ibu tua dengan pakaian usang berjalan dari belakang rumah dengan membawa ember.. oooh ada penghuninya..
2 kilo kami lintasi rumah itu, ternyata ada 2 rumah panggung yang hampir sama lagi , yang tak kokoh juga! mereka hidup sangat miskin sekali teman, mereka hidup di hutan yang menurutku mati krn pasti tak ada kehidupan distu..
setelah itu, kami tiba di pelabuhan kwcil, jalan menuju dermaga di penuhi bebatuan, aku kesulitan berjalan, aku harus berhati hati sekali melaluinya, kalau tidak, aku akan jatuh dan terluka..
kami ahirnya menaiki perahu kecil itu, lautnya berwarna warna hijau dan biru, sangat indah, sangat bersih, sangat bening.. laut ini sedikit membuatku tersenyum setelah aku miris melewati hutan mati itu..
lalu, tibalah kami di raham nama kota dan kami menuju muna.. dan lagi2 kami harus menempuh jalan yang berat, jalannya rusak parah, dan teman, rumah rumah penduduk di sepanjang jalan itu hampir sama dengan rumah yang aku temuin di dalam hutan, rumah panggung dari kayu yang usang dan tak kokoh lagi.. banyak sekali keadaannya yang sangat memperhatinkan.. mereka mandi dan hidup bersama sapi dan ternaknya yang lain..
lalu sampailah aku ditempat aku menyanyi, tempat aku menyanyi hanya di sbeuah balai pertemuan saja, balai pertemuan itu sempit, kotor, usang, engap, gelap, rusak, lembab.. kasian.. mungkin mereka tidak semuanya benar benar kenal aku, tapi aku bersyukur, aku bisa menghibur mereka, bernyanyi bersama, tersenyu bersama, menari bersama walaupun hanya sebentar saja, yah aku bersyukur aku bisa membantu mereka menikmati dan memberi warna yang indah pada hidup mereka..
jam 5 sore, kami harus kembali ke kendari lagi.. lalu kami sampai di pelabuhan ternyata sudah jam 7 malam.. kami menaiki perahu yang sama seperti yang kami tumpangi di awal.. sialnya, pemilik perahu tidak tahu kalau kami akan kembali pada malam hari, mereka menyangka kami kan kembali di sore hari.. mereka tidak menyediakan lampu sama sekali di perahu itu, ahirnya panitia mencari senter, dan dengan 1 senter ukuran sedang kami pulang ke kendari.. gelap, hujan, menakutkan.. asal kalian tahu teman, perahu kami hampir bertabrakan dengan perahu yang lain..aku terduduk lemas, ketakutan, dan hanya berdoa dan berharap.. aku takut..
dan ahirnya kami sampai juga di kendari, aku lepas sepatuku saat melintasi bebatuan, aku tidak bisa berjalan dengan baik, aku telalu lemas dan gemetar karena masih merasakan ketakutan..
dan kami melewati hutan mati itu.. aku menulis blog ini melalui hpku, sambil ditemani musik dari ipodku, tetapi musiknya tidak terdengar karena suara air hujan yang deras mendominasi telingaku.. aku hanya berdiam, memandangi sekitar melalui jendela mobil yang aku naiki.. dan memohon kepada Allah, untuk melindungi perjalanan kami..